Jembatan Rusak dan Fasilitas Minim, Sendang Mbah Bawuk Kian Sepi Pengunjung

Blitar, JendelaDesa.com – Tidak terlihat lagi para pengunjung dengan berbagai gaya di depan kamera telepon seluler, dan tidak ada lagi anak-anak berlari-lari kecil dengan tawa. Pemandangan sangat berubah bila dibanding satu tahun yang lalu.

Bahkan sekarang, masyarakat yang berkunjung di Sendang Mbah Bawuk hendaknya berhati-hati bila menuju lokasi sumber air melewati jembatan yang melintang di atas persawahan dekat di kawasan sumber air. Atau mungkin pengunjung lebih bijaknya memilih tidak melewati, pasalnya jembatan terbuat dari papan kayu tersebut saat ini kondisinya sangat memprihatinkan, banyak yang sudah lapuk dan juga tidak sedikit yang ambrol.

Rusaknya papan jembatan berpotensi membahayakan keselamatan pengunjung, terutama bagi anak-anak. Sebenarnya kondisi tersebut sudah disampaikan berulang kali kepada pejabat pemerintah daerah yang memiliki keterkaitan maupun wilayah kawasan sumber air, namun tetap tidak ada tindakan.

Haryono, salah satu pelestari Sendang Mbah Bawuk, mengemukakan bahwasanya warga sekitar yang mempunyai kepedulian terhadap sumber air sudah mengupayakan mengganti dengan bambu untuk meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan, akan tetapi kemampuannya tidak bisa diharapkan sebagai solusi.

” Sebenarnya sudah lama dan sudah dilaporkan kalau papan jembatan kondisinya rusak. Kita khawatir kalau ada pengunjung mengalami hal yang tidak diinginkan. Yang bisa dilakukan, kami meminta kepada pengunjung untuk berhati-hati bila melewati jembatan, atau bila mana perlu lewat jalan yang lain saja,” terang Hariyono.

Sendang Mbah Bawuk, salah satu sumber air yang berada di Kelurahan Karangtengah, Kecamatan Sananwetan, memiliki empat mata air yang tidak pernah mati meskipun di musim kemarau. Di kawasan ruang terbuka hijau berdiri puluhan pohon-pohon besar yang rindang, hingga menciptakan udara sejuk.

Namun sayangnya, minat pengunjung di Sendang Mbah Bawuk semakin hari semakin menurun, bahkan bisa dikatakan nyaris tidak ada yang mengunjungi, kecuali orang memancing. Sumber air yang berlokasi di perkotaan Blitar, tidak lagi menjadi destinasi wisata lokal. Selain tidak terawatnya kawasan sumber air, infrastruktur akses menuju lokasi yang tidak layak, tidak ada fasilitas tempat duduk, dan toilet yang tidak tersedia, menjadi alasan kali Karplos dan sumber air Mbah Bawuk tidak diminati.

Membersihkan dan merapikan kawasan sumber air sudah dilakukan secara swadaya oleh warga sekitar yang mempunyai empati terhadap kelestarian lingkungan, namun sangat terbatas. Kegiatan menanam pohon juga dilakukan, juga hanya gebrakan-gebrakan saja, tidak berkelanjutan.

Pemerintahan Kota Blitar periode saat ini, tidak pernah ada kegiatan pembangunan fasilitas umum di Sendang Mbah Bawuk yang kemanfaatannya bisa dirasakan oleh pengunjung atau masyarakat. Sementara ruang publik yang lain bisa memperoleh anggaran ratusan juta untuk pengembangan pembangunan.

” Kita relawan yang peduli, yang kami lakukan di sini ya hanya semampu kami,” tukas Hariyono. (Ans).