
BLITAR, JendelaDesa.com – Kirab budaya Bersih Desa Karangtengah menjadi salah satu rangkaian acara tradisi bersih desa dan sedekah bumi yang dimeriahkan oleh 10 Rukun Warga (RW), beberapa lembaga pendidikan, serta organisasi di tingkat Kelurahan Karangtengah. Dalam kirab yang diselenggarakan pada Sabtu (20/6/2026) tersebut, disemarakkan berbagai kreasi seni dan budaya dengan penuh rasa kebersamaan. Di puncak acara bersih desa, digelar pula pertunjukan seni jaranan.
Yang menarik di antara peserta kirab, warga RW 5 Kelurahan Karangtengah, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar menampilkan sosok tokoh legendaris yang berkaitan dengan sumber air di lingkungan Ploso Tengah. Mereka menampilkan sebuah garapan seni patung kirab berbentuk tokoh tersebut yang berbahan dasar sayuran, mulai dari kacang panjang, tomat, terung, sawi, hingga beberapa jenis sayuran lainnya.
Hariono, salah satu warga pelestari lingkungan Sumber Air Mbah Bawuk, menyampaikan bahwa acara kirab ini digelar setiap tahun. Menurutnya, pembuatan patung Mbah Bawuk dengan bahan sayur bertujuan untuk mengingatkan bahwa semua makhluk hidup, tidak terkecuali tanaman pertanian, sangat bergantung pada pasokan air.
Hariono juga mengungkapkan bahwa penampilan patung kirab ini merupakan ekspresi dari kondisi yang terjadi saat ini, di mana fluktuasi harga sayur dipicu oleh faktor cuaca ekstrem serta masalah lainnya. Dampak dari ketidakstabilan harga tersebut turut memengaruhi para pelaku usaha produk dan jasa makanan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
“Jadi, gagasan warga membuat patung kirab sosok Mbah Bawuk adalah untuk mengingatkan semua kalangan, terutama generasi muda, agar ikut menjaga dan melestarikan alam. Salah satunya adalah sumber air yang berada di lingkungan Ploso Tengah,” ungkapnya.
Penyebutan nama Mbah Bawuk memang tidak ditemukan dalam bukti sejarah tertulis, namun nama tersebut sangat lekat dengan sumber air yang dikenal selama puluhan bahkan ratusan tahun oleh warga sekitar. Sayangnya, kondisi mata air saat ini terlihat berbeda dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu. Perubahan mencolok terjadi karena minimnya dukungan perawatan dari pemerintah setempat, terutama semenjak adanya pergantian kepala pemerintah daerah baru yang diikuti oleh jajaran aparatur di bawahnya, sehingga kebijakan dalam melestarikan potensi alam terkesan hilang.
Ironisnya, beberapa tahun lalu Sumber Air Mbah Bawuk sempat dikembangkan dan dikelola dengan baik oleh pemerintah daerah menjadi ruang terbuka hijau (RTH) serta destinasi wisata lokal. Namun kini, alih-alih merawat area sumber air agar lebih baik, pihak terkait justru disibukkan oleh wacana untuk mengubah nama legenda Mbah Bawuk menjadi nama seseorang yang dianggap tidak jelas asal-usulnya.
Menanggapi kondisi Sumber Air Mbah Bawuk yang kini sepi pengunjung dan tidak terawat, serta adanya wacana penggantian nama tersebut, pelestari seni yang tergabung dalam kelompok jaranan Suryo Kuncoro Putro ini menandaskan bahwa warga sekitar dan sukarelawan sebenarnya masih melakukan perawatan. Namun, upaya itu tidak optimal karena terbentur waktu dan ketiadaan anggaran. Terkait wacana pergantian nama, Hariono dengan tegas menyatakan penolakannya.
“Sebenarnya sekarang kami masih tetap merawat, namun tidak bisa rutin karena selain keterbatasan waktu, juga tidak ada dukungan anggaran untuk memperbaiki kerusakan. Jika ada yang ingin mengganti nama Mbah Bawuk dengan nama yang lain, saya dan teman-teman dengan tegas menolak,” tandas Hariono kepada HarianForum.com. (Ans)
