
NGANJUK, JendelaDesa.com – Petani padi di Desa Kepanjen, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk, mengeluhkan minimnya pasokan air irigasi untuk mengairi lahan pertanian mereka. Kondisi tersebut membuat petani khawatir tanaman padi yang tengah dibudidayakan tidak dapat tumbuh optimal.
Minimnya pasokan air disebut dipengaruhi kemarau yang berkepanjangan serta kencangnya hembusan angin yang menyebabkan debit air di Dam Baduk menurun. Selain itu, sejumlah saluran irigasi menuju lahan pertanian juga mengalami kebocoran akibat adanya sudetan, sehingga aliran air tidak dapat sampai ke sawah secara maksimal.
Kondisi tersebut membuat petani harus mengeluarkan biaya tambahan untuk memenuhi kebutuhan air. Salah satunya dengan membeli solar untuk mengoperasikan mesin diesel guna mengalirkan air ke lahan pertanian.
Jika kondisi kekurangan air terus berlangsung, biaya yang dikeluarkan petani dikhawatirkan semakin besar dan tidak sebanding dengan hasil panen yang diperoleh.
Kepala Desa Kepanjen, Sugeng Purnomo, mengatakan terdapat sekitar 19 hektare lahan tanaman padi di Dusun Codot yang saat ini menghadapi persoalan pasokan air irigasi.
Menurutnya, aliran air irigasi ke wilayah tersebut sudah tidak mengalir selama sekitar satu bulan terakhir. Kondisi itu menjadi salah satu kendala utama yang dihadapi petani.
“Kalau tidak segera teratasi, tidak menutup kemungkinan tanaman padi bisa mengalami gagal panen,” ujar Sugeng.
Sementara itu, Kabid Pengairan Dinas PUPR Kabupaten Nganjuk, Rusdi Gunawan, menjelaskan bahwa saat ini sebenarnya telah memasuki musim tanam palawija.
Namun, karena petani di wilayah tersebut sudah terlanjur menanam padi, pihaknya akan mengupayakan agar pasokan air irigasi dapat kembali lancar.
Upaya tersebut dilakukan agar persoalan kekurangan air tidak mengganggu produksi pertanian, sekaligus mendukung program ketahanan pangan pemerintah.
