Psikolog Elma Prastika Maharani., S.Psi., M.Psi : Memahami Kekerasan Dalam Relasi Intim.

Blitar, HarianForum.com – Terjadi lagi, kasus kekerasan dengan hilangnya nyawa seorang perempuan dan anak balita yang melibatkan orang terdekatnya, dimana pelaku pembunuhan yang disertai tindakan keji pembakaran terhadap jasad sebuah upaya menghilangkan jejak kejahatannya, merupakan suami sirinya.Peristiwa kekerasan hilangnya nyawa lainnya pernah terjadi menimpa seorang perempuan asal Blitar disertai tindakan mutilasi dan membuang potongan tubuh di lokasi yang berbeda
untuk menghilangkan jejak perbuatannya, dimana dilakukan oleh kekasihnya yang mengaku sebagai suami siri.

Berulang kali tindakan kekejian terjadi dan terjadi lagi, fenomena pembunuhan yang dilakukan oleh orang terdekat terutama terhadap pasangannya menurut psikolog Elma Prastika Maharani., S.Psi., M.Psi., kenyataan yang ada dapat dipahami melalui konsep Intimate Partner Violence ( IPV ) atau kekerasan yang terjadi dalam relasi intim.Kepada Harian Forum.com, Elma Prastika menjelaskan kekerasan yang terjadi tidak selalu berawal dari kebencian, dalam pemikirannya Elma melihat beberapa kasus, dan hal tersebut justru timbul dari kombinasi kebutuhan untuk menguasai, ketakutan kehilangan, kecemburuan, rasa memiliki yang berlebihan, dan ketidakmampuan dalam mengelola emosi.

” kalau kita melihat kasus suami yang membunuh istri siri dan anaknya di Madiun beberapa hari yang lalu, ada hal yang menarik untuk dikaji secara psikologis.Apakah ada kebutuhan untuk menguasai pasangan, atau
ada kecemburuan dan konflik relasi yang tidak mampu dikelola, apakah pelaku memiliki riwayat perilaku mengancam atau melakukan kekerasan, mungkin juga tindakan yang dilakukan merupakan ledakan agresi atau sudah melalui proses perencanaan.” jelas psikolog yang berdomilisi di desa Minggirsari, kecamatan Kanigoro, kabupaten Blitar

” namun kita perlu membedakan dua hal, mencintai seseorang dan merasa memiliki seseorang, atau keduanya bukan hal yang sama.Dan beberapa hal ini bisa menjadi kemungkinan karena kedekatan emosional yang tinggi, pasangan biasanya memiliki akses terhadap kehidupan pribadi satu sama lain.Mereka mengetahui kelemahan, ketakutan, kebiasaan, dan hal-hal yang paling sensitif bagi pasangannya.Ketika hubungan mengalami konflik, kedekatan tersebut terkadang justru menjadi ruang bagi seseorang untuk melakukan manipulasi, intimidasi, atau kekerasan.” tambahnya.

Elma Prastika Maharani melanjutkan, bahwasanya adanya perasaan memiliki dan hak untuk mengontrol, sebagian orang memiliki keyakinan yang keliru bahwa pasangan adalah miliknya sehingga pasangan harus mengikuti keinginannya, selain itu juga terdapat ketersinggungan terhadap harga diri.

Diungkapkan Elma dengan istilah digunakan untuk menggambarkan pengalaman ketika harga diri seseorang terasa sangat terancam, dari perasaan seseorang tidak dihargai, dipermalukan, tidak diprioritaskan, dikalahkan oleh orang lain, kehilangan posisi atau kendali dalam hubungan, dimana pada individu dengan kerentanan tertentu, pengalaman tersebut dapat memicu kemarahan yang sangat intens.

” kecemburuan yang berlebih dan rasa memiliki, meskipun kecemburuan merupakan emosi manusia yang normal.Namun kecemburuan dapat menjadi berbahaya ketika disertai
kecurigaan yang terus – menerus,
interpretasi negatif terhadap perilaku pasangan, sehingga ada keinginan menghukum pasangan, melakukan
ancaman atau intimidasi, dan timbul
keyakinan bahwa pasangan tidak boleh memiliki kehidupan di luar dirinya.Dalam kondisi demikian, kecemburuan bukan lagi sekadar perasaan takut kehilangan, tetapi dapat berubah menjadi perilaku agresif dan mengontrol.” ungkap Elma
dengan menambahkan persoalan yang terjadi harus dilakukan penelusuran lebih dalam, yang mana orang lain tidak bisa membuat kesimpulan kondisi psikologis atau diagnosis pelaku hanya dari pemberitaan tanpa melakukan asesmen secara langsung.

” karena kesulitan menoleransi frustrasi, kesulitan mengendalikan dorongan, kesulitan menyelesaikan konflik, kesulitan mengelola kemarahan dan kesulitan mempertimbangkan konsekuensi tindakan, disaat menghadapi konflik yang berat, mereka mungkin merespons dengan agresi.Tetapi tidak semua kekerasan merupakan tindakan impulsif akibat kehilangan kendali.
Ada kekerasan yang dilakukan secara bertahap, disengaja, bahkan disertai perencanaan.” pungkas Elma Prastika Maharani., S.Psi., M.Psi.(Ans).