
NGANJUK, JendelaDesa.com – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) menjadi momen berbeda bagi siswa Sekolah Rakyat di Kabupaten Nganjuk. Selain mengenal lingkungan sekolah, para siswa juga mulai menjalani kehidupan di asrama untuk pertama kalinya.
Hari pertama masuk asrama membuat sejumlah siswa merasa terharu. Mereka harus berpisah sementara dengan keluarga, setelah sebelumnya terbiasa berkumpul bersama orang tua dan keluarga setiap hari.
Salah satunya dialami seorang siswi SD asal Sawahan. Siswi tersebut menangis setelah ditinggal pulang oleh ibunya. Pengasuh kemudian berusaha membujuk dan menenangkannya agar dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar di Sekolah Rakyat.

Hal serupa juga dirasakan Putria Velia. Siswa Sekolah Rakyat tersebut mengaku senang bisa bersekolah di Sekolah Rakyat, tetapi juga merasa sedih karena harus berpisah dengan dua adiknya.
“Senang, tetapi juga sedih karena terpisah dari dua adik saya.”
Sebelumnya, Putria bersekolah di SMP Negeri 2 Nganjuk. Untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, ia harus menjalani pendidikan di Sekolah Rakyat sekaligus tinggal di asrama.

Sementara itu, Kepala Sekolah Rakyat Kabupaten Nganjuk, Zuana Nurul Huda, mengatakan pelaksanaan program Sekolah Rakyat telah berjalan sesuai dengan SOP yang ditetapkan pemerintah.
Menurutnya, seluruh siswa Sekolah Rakyat memang diwajibkan tinggal di asrama. Untuk mendampingi para siswa, setiap asrama telah memiliki pengasuh yang bertugas memberikan bimbingan selama siswa menjalani kehidupan di asrama.

“Di Sekolah Rakyat, semua siswa masuk asrama. Di masing-masing asrama ada pengasuh untuk membimbing siswa.”
Di sisi lain, pembangunan fasilitas Sekolah Rakyat Kabupaten Nganjuk hingga kini masih terus dikebut. Pembangunan tersebut ditargetkan dapat rampung hingga pertengahan September 2026.
