Diduga Keracunan Santapan MBG, Puluhan Siswa SMAN 3 Nganjuk Alami Mual Muntah Hingga Dilarikan ke Fasilitas Kesehatan

NGANJUK, JendelaDesa.com – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 3 Nganjuk mendadak jadi sorotan publik. Puluhan siswa beserta tenaga pendidik dilaporkan mengalami gejala pusing, mual, hingga muntah usai menyantap hidangan MBG pada Rabu (2/9/2026).​

Insiden ini memicu kekhawatiran serius terkait aspek keamanan pangan bagi para penerima manfaat. Berdasarkan data sementara yang berhasil dihimpun, sedikitnya 94 siswa harus dilarikan ke sejumlah fasilitas kesehatan guna mendapatkan perawatan medis mendesak.

​Menurut keterangan dari beberapa guru di SMAN 3 Nganjuk, santapan MBG mulai dibagikan dan dikonsumsi para siswa sekira pukul 10.00 WIB. Namun, gangguan kesehatan secara bertahap mulai timbul beberapa jam kemudian.

​“Setelah salat Zuhur mas, anak-anak mulai mengalami gejala pusing, mual, dan muntah,” tutur salah seorang tenaga pendidik saat ditemui awak media di lokasi, Rabu sore.​

Tak hanya para murid, keluhan serupa turut dirasakan oleh sejumlah guru yang ikut mengonsumsi jatah makanan tersebut. Salah satu pengajar menceritakan bahwa dirinya sudah merasakan pusing sejak pukul 11.00 WIB, sementara rekan sejawatnya memilih pulang lebih awal akibat sakit perut.

​“Teman saya yang makan bareng tadi sempat merasa mulas sekitar pukul 11.00 WIB. Kemudian pamit pulang, dan sampai rumah menyampaikan muntah-muntah,” jelasnya.​

Menanggapi kondisi darurat ini, setidaknya 94 siswa langsung dievakuasi ke beberapa fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.​“Ada yang dibawa ke Puskesmas, RSUD Nganjuk, dan RS Bhayangkara,” ujar seorang sumber terpercaya.​Makanan yang diduga menjadi pemicu keracunan massal tersebut diketahui dipasok oleh salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang beroperasi di Kecamatan Nganjuk. 

Adapun paket menu yang disajikan pada hari itu meliputi nasi goreng, ayam suwir, tahu bulat, telur dadar iris, acar timun dan wortel, serta potongan buah semangka.​

Hingga kini belum dapat dipastikan komponen makanan mana yang memicu gangguan kesehatan tersebut—apakah timbul dari bahan baku, proses pengolahan, penyimpanan, maupun tata cara distribusi.​

Petugas berwenang telah diterjunkan ke lokasi untuk melakukan rekapitulasi data dan mengambil sampel seluruh menu makanan guna pengujian laboratorium. 

Langkah ini menjadi krusial untuk memastikan keterkaitan antara sajian program MBG dengan keselamatan konsumsi anak-anak sekolah. Pihak sekolah dan keluarga korban kini masih menunggu hasil pemeriksaan medis resmi serta uji laboratorium sampel makanan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *