
Blitar, JendelaDesa.com -Selain paru-paru kota dan pengatur iklim mikro, ruang terbuka hijau ( RTH ) biasanya merupakan zona dengan suasana lingkungan yang asri, hingga sebagian masyarakat menjadikan sebagai wahana rekreasi perkotaan.Area hijau yang dirancang menjadi ruang sosial, tidak sedikit digunakan sebagai tempat membaca yang menyenangkan.
Dengan penguatan ruang terbuka hijau untuk taman baca, diharapkan mampu terciptanya budaya masyarakat, terutama bagi anak – anak muda menggunakan ruang dengan konsep alam terbuka, tidak sekedar sebagai tempat relaksasi fisik, akan tetapi bisa dimanfaatkan untuk menstimulasi otak, menambah pengetahuan serta wawasan.
Pemerintah daerah bijaknya lebih berinovasi menjadikan ruang – ruang publik sebagai destinasi literasi dengan melihat dibawah pohon – pohon rindang yang tegak berdiri di kawasan ruang terbuka hijau Kanigoro, kabupaten Blitar, tidak sedikit anak – anak menikmati buku bacaan yang disediakan Unit Pelaksana Tehnis ( UPT ) Perpustakaan Proklamator Bung Karno.
Goro Isnantoputro petugas perpustakaan keliling (pusling) UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno ditemui di ruang terbuka hijau Kanigoro pada Minggu (26/4), kepada Harian Forum.com menyampaikan layanan perpustakaan keliling di ruang terbuka dilakukan setiap hari Minggu. Goro juga menuturkan untuk layanan perpustakaan keliling dilakukan berpindah lokasi sesuai dengan agenda kegiatan.
“Disini setiap hari Minggu untuk bulan ini, bulan depan bisa berpindah di lokasi lain, mungkin di Penataran, atau tempat wisata yang lain ” tutur Goro Isnantoputro.
Lemahnya minat baca berpotensi menyebabkan rendahnya kepemilikan informasi maupun data yang yang berkualitas, sehingga rendahnya kepemilikan tersebut menjadikan pola pikir terbatas. Selain itu dengan tidak membaca, kemampuan menganalisa menjadi rendah yang rentan terjebak dengan informasi palsu. Sekarang tinggal bagaimana langkah bijaksana dari semua kalangan untuk lebih berkreasi dan berinovasi membuat anak – anak berantusias membaca.
Mengawali perpustakaan keliling pada tahun 2016, Goro mengaku menyukai pekerjaan di perpustakaan semenjak tahun 2004.Dalam pandangannya, antusias membaca buku di ruang terbuka lebih didominasi anak – anak dibanding kelompok remaja maupun orang dewasa.
“Membaca buku di sini atau ditempat terbuka lainnya yang banyak anak – anak. Bahkan kalau kami tidak datang, yang mempunyai nomer kami itu menghubungi atau menelpon.Seperti hari ini antusias membaca buku di ruang terbuka, didominasi oleh anak – anak, meskipun juga ada pembaca dewasa.” tandasnya.(Ans).
