Musim Kemarau Tiba, Petani di Jombang Justru Masih Bertahan Tanam Padi, Ini Alasannya

JOMBANG, JendelaDesa.com – Musim kemarau biasanya menjadi momentum petani beralih menanam jagung. Namun, kondisi berbeda terjadi di Jombang tahun ini. (9/7/2026)

Luas tanam jagung justru diproyeksikan menyusut karena sebagian lahan tetap diarahkan untuk mendukung program peningkatan produksi padi.

Kepala Dinas Pertanian (Disperta) Jombang M. Rony memproyeksikan luas tanam jagung pada musim kemarau tahun ini mencapai sekitar 25 ribu hektare.

Angka tersebut lebih rendah dibanding potensi maksimal tahun 2025 yang mencapai 27.763,7 hektare. Penurunan proyeksi itu dipengaruhi masih masifnya program pemerintah untuk menjaga ketahanan pangan, terutama melalui peningkatan produksi padi.

”Potensi maksimal jagung di Jombang 2025 kurang lebih 27.763,7 hektare. Untuk musim kemarau tahun ini kami perkirakan sekitar 25 ribu hektare,” katanya.

Menurut Rony, sejumlah program seperti irigasi perpompaan (Irpom) dan optimasi lahan (Oplah) membuat petani tetap mempertahankan budidaya padi meski memasuki musim kemarau. ”Program padi masih cukup masif. Kemudian untuk mempertahankan ketahanan pangan juga masih diarahkan ke padi. Karena itu estimasi luas tanam jagung sekitar 25 ribu hektare,” imbuhnya.

Meski demikian, angka tersebut masih bisa berubah. Perkembangan cuaca dan kondisi jaringan irigasi menjadi faktor utama yang menentukan keputusan petani dalam memilih komoditas.

Jika kemarau berlangsung lebih panjang dan ketersediaan air menurun, luas tanam jagung berpotensi meningkat karena petani mulai beralih dari padi. Sebaliknya, jika pasokan air tetap terjaga, tanaman padi masih menjadi pilihan.

”Semuanya masih melihat perkembangan cuaca dan kondisi irigasi di masing-masing wilayah. Kalau kemarau cukup panjang, luas tanam jagung masih mungkin bertambah,” ujarnya.

(sumber:radarjombang.jawapos.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *