
SURABAYA, JendelaDesa.com – Setiap 17 Agustus, suasana perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tidak hanya ditandai dengan upacara dan pengibaran Bendera Merah Putih. Di lingkungan masyarakat, kemeriahan juga hadir dalam berbagai perlombaan, mulai dari balap karung, makan kerupuk, tarik tambang, hingga panjat pinang.
Perlombaan digelar hampir di mana-mana, dari lingkungan RT dan RW, sekolah, perkantoran, hingga berbagai komunitas. Pesertanya pun lintas usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.
Tradisi itu begitu melekat dalam perayaan kemerdekaan sehingga lomba seolah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari HUT RI.
Identik sejak 1950
Dosen Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Siti Maziyah menerangkan, kemeriahan lomba 17 Agustus rupanya bukan tradisi yang langsung muncul setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 1945. Sebab, pada tahun-tahun awal kemerdekaan, Indonesia setidaknya masih menghadapi perang mempertahankan kemerdekaan sampai 1949.
Perlombaan baru muncul memasuki tahun 1950-an, setelah situasi politik dan keamanan relatif lebih stabil. Saat itu, kata Maziyah, masyarakat mulai mencari cara untuk merayakan kemerdekaan dengan suasana yang meriah dan melibatkan masyarakat luas.
“Jadi, setelah revolusi fisik yang luar biasa, rakyat itu memperingatinya dengan bersenang-senang itu,” kata Maziyah, Senin (10/8/2026).
Permainan sejak kolonial
Namun, jika ditelisik lebih jauh, ragam permainan yang dilombakan pada 17 Agustus justru punya sejarah lebih tua daripada kemerdekaan Indonesia. Panjat pinang menjadi salah satunya.
Permainan ini sudah dikenal saat Belanda masih menguasai Indonesia. Permainan semacam ini disebut de klimmast dan memang kerap digunakan sebagai hiburan dalam berbagai acara. Pemerintah Belanda bahkan sempat mewajibkan wilayah koloni memperingati Koninginnedag setiap tanggal 31 Agustus untuk merayakan ulang tahun Ratu Wilhelmina.
Bahkan, bentuk permainan panjat tiang sudah dikenal dalam tradisi Tionghoa sejak Dinasti Ming, sebelum kemudian masuk dan berkembang di Indonesia pada masa kolonial.
“Banyak permainan rakyat yang sudah ada sejak zaman dulu, ada yang sejak sebelum ada Belanda atau kemudian ada ketika zaman Belanda. Jadi, ada beberapa permainan tradisional yang munculnya pada masa Belanda, termasuk gobak sodor,” tutur Maziyah.
Begitu pula dengan balap karung. Dikutip dari pemberitaan Kompas.com, menurut Muhammad Aldo Fajar Azdkar, dkk dalam jurnal Perlombaan dalam Rangka Memperingati HUT RI ke 77 di TPQ Aljihad Bedahan (2022), lomba balap karung menggambarkan sulitnya mendapatkan kain untuk pakaian di masa penjajahan. Karung goni menjadi alternatif pengganti pakaian karena mudah didapat. Filosofinya adalah mengingat masa sulit itu sekaligus melatih ketangkasan, semangat, dan kegigihan peserta.
Lain lagi dengan lomba makan kerupuk. Menurut penelitian Azizah Khairunnisaul Azizah dalam Perancangan Buku Ilustrasi Perlombaan HUT RI dengan Gaya Visual Anime untuk Gen Z (2025), lomba makan kerupuk sudah ada sejak era Presiden Soekarno. Dulu, kerupuk menjadi simbol penderitaan rakyat di masa penjajahan, karena merupakan makanan murah yang akrab di tengah keterbatasan.
Lomba ini kemudian dilakukan dengan menghabiskan kerupuk yang digantung di tali rafia tanpa menyentuhnya dengan tangan. Filosofinya adalah mengenang kesengsaraan masa lalu, menumbuhkan semangat perjuangan, rasa percaya diri, dan rasa syukur atas nikmat kemerdekaan.
Jawa, “periuk” berbagai budaya
Maziyah lalu mengingat-ingat ragam permainan lain yang merupakan serapan dari budaya luar. Permainan tersebut adalah dakon atau congklak, yang secara internasional dikenal sebagai mancala. Permainan ini, lanjut dia, ditemukan dalam berbagai masyarakat di Afrika, Timur Tengah, sampai Asia. Permainan ini diduga menyebar ke berbagai wilayah melalui interaksi dan pertukaran budaya hingga akhirnya berkembang dalam bentuk lokal di Nusantara.
“Itu salah satu permainan tradisional yang sebetulnya karena adanya perdagangan, jadi diperkenalkan (di Nusantara). Jadi banyak (permainan yang dilokalisasi) terutama di Jawa, ya,” tutur Maziyah.
Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran sejarawan Prancis, Denys Lombard, dalam Nusa Jawa: Silang Budaya. Lombard melihat Jawa sebagai ruang persilangan berbagai kebudayaan. Berbagai pengaruh dari luar, mulai dari India, China, dunia Islam, hingga Eropa, tidak serta-merta menghapus kebudayaan yang telah ada, tetapi berinteraksi dan berbaur dengan unsur lokal. Dari proses itulah terbentuk lapisan-lapisan kebudayaan yang kemudian menjadi bagian dari identitas Jawa.
Maziyah mengibaratkan proses tersebut seperti sebuah periuk yang terbuka terhadap berbagai bahan dari luar. Apa pun yang masuk ke dalamnya tidak lantas mempertahankan bentuk aslinya, tetapi diolah dan berpadu dengan bahan lain hingga menghasilkan sesuatu yang khas.
“Periuk yang bisa dimasuki apapun. Maksudnya adalah budaya dari mana saja itu bisa masuk ke Jawa dan orang Jawa bisa kemudian menjawakan atau menerima dengan baik dan bahkan kemudian menjadi terasa Jawa,” ujar Maziyah.
Membangun kegembiraan
Di sisi lain, keberadaan beragam perlombaan dalam perayaan 17 Agustus juga tidak lepas dari upaya masyarakat menghadirkan semangat kemerdekaan melalui kegembiraan. Perlombaan dan pesta rakyat kemudian menjadi cara untuk membuat masyarakat antusias dan merasakan kemeriahan.
Ajang tersebut juga menjadi ruang yang mempertemukan masyarakat. Warga berkumpul, berinteraksi, dan terlibat dalam kegiatan yang sama. Keterlibatan itu bahkan menuntut kerja sama antarpeserta. Panjat pinang, misalnya, membutuhkan beberapa orang untuk saling menopang agar dapat mencapai puncak.
“Intinya di situ mengumpulkan orang, ada rasa yang sama yaitu memperingati 17 Agustus, semacam solidaritas. Intinya adalah bersenang-senang itu sendiri. Jadi semacam pesta rakyat itu sendiri,” tutur Maziyah.
Kemeriahan lomba 17 Agustus menjadi semacam rekayasa budaya, di mana kegiatan menjadi magnet yang mampu mengumpulkan banyak hal dalam satu ruang dan satu tujuan. Lebih dari itu, perlombaan juga menjadi simbol bahwa kemerdekaan merupakan sesuatu yang patut dirayakan dan terus diingat.
Kemeriahan yang hadir setiap 17 Agustus menjadi salah satu cara masyarakat merawat ingatan atas perjuangan generasi terdahulu yang berjuang memerdekakan Indonesia.
“Tugas kita sekarang mengisi kemerdekaan itu dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat yang bisa apa istilahnya menaikkan derajat bangsa,” ujar Maziyah.
