Kontes Durian Wonosalam 2026 Jadi Strategi Pemkab Jombang Gali Varietas Unggul Baru

Jombang, JendelaDesa.com –Kontes Durian Wonosalam 2026 bukan sekadar ajang adu manis dan legitnya buah. Lebih dari itu, kontes ini menjadi strategi besar Pemerintah Kabupaten Jombang untuk memburu bibit genetik unggul baru dan mengukuhkan Wonosalam sebagai sentra durian terbaik di Jawa Timur.

Kontes yang digelar Dinas Pertanian Kabupaten Jombang di Lapangan Kecamatan Wonosalam, Sabtu (10/10/2026) itu menjadi panggung bagi petani lokal untuk unjuk gigi dengan durian-durian yang belum pernah dikenal publik.

Acara dihadiri langsung Bupati Jombang Warsubi, S.H.,M.Si., didampingi Wakil Bupati Salmanudin,S.Ag.,M.Pd., Sekda Agus Purnomo, S.H.,M.Si., serta jajaran Forkopimda dan stakeholder pariwisata.

Bupati Warsubi menegaskan, Wonosalam punya modal lengkap: tanah subur, udara sejuk, dan petani yang berpengalaman. “Potensi durian lokal Wonosalam harus kita gali agar menjadi daya tarik wisata unggulan sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat,” tegasnya.

Ada yang berbeda di kontes tahun ini. Panitia melarang keras varietas yang sudah punya nama besar seperti Durian Bido untuk ikut.

Syaratnya jelas: peserta wajib membawa durian lokal asli Wonosalam yang belum pernah dikonteskan sebelumnya dan harus jatuh alami dari pohonnya. Aturan ini untuk memastikan penilaian berdasarkan tingkat kematangan yang optimal, bukan hasil peraman.

Langkah ini diambil karena Pemkab Jombang tidak ingin kekayaan durian Wonosalam berhenti di Bido, Mrico, atau SW (Sukoco Wonosalam) yang sudah dikenal sejak 2012.

Kepala Dinas Pertanian Jombang, Ir. Much. Rony, M.M., menyebut animo petani tinggi. “Hari pertama saja sudah 47 varietas lokal masuk meja penjurian. Kami targetkan lebih dari 100 varietas hingga Minggu (11/10/2026),” ujarnya.

Proses pendaftaran dibuat dinamis mengikuti buah yang jatuh dari pohon. Untuk menjaga objektivitas, tim juri diisi pakar dan praktisi lokal Wonosalam dan hasil penilaiannya ditayangkan live di lokasi.

Berdasarkan data Dinas Pertanian, populasi durian di Wonosalam mencapai sekitar 192 ribu pohon. Angka fantastis yang menjadi modal utama.

Namun, Rony mengingatkan populasi besar saja tidak cukup. Tantangannya adalah konsistensi kualitas, perawatan, dan nilai jual.

Pemkab menyiapkan strategi jangka panjang: bantuan bibit unggul, sekolah lapang petani, hingga teknik _top working_ atau sambung pucuk untuk memperbaiki kualitas pohon tua.

“Tujuannya bukan seremonial tahunan. Kontes ini harus menjadi pintu masuk identifikasi, dokumentasi, dan pendaftaran varietas baru yang resmi,” jelasnya.

Dampak kontes terasa langsung di lapangan. Ribuan pengunjung dari berbagai daerah datang, terjadi transaksi langsung petani dan pembeli tanpa tengkulak. Posisi tawar petani jadi lebih kuat.

Efek domino juga dirasakan UMKM makanan-minuman, jasa transportasi, hingga destinasi wisata di Wonosalam yang ikut ramai.

Pemkab ingin pengembangan tidak berhenti sebagai buah musiman. Konsep agrowisata durian akan diperkuat: wisatawan tidak hanya membeli, tapi juga belajar budidaya, mengenal kehidupan petani, dan menikmati produk olahan lokal.

Momentum panen apitan Oktober 2026 ini, menurut Bupati Warsubi, menjadi pemanasan menuju panen raya akbar 2027. Harapannya, durian Wonosalam bukan hanya kebanggaan, tapi menjadi kekuatan ekonomi berkelanjutan bagi petani Jombang.(en)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *