Kurang Edukasi, 3 Warga Meninggal Setelah Konsumsi Bangkai Sapi Pengidap Antraks

Berita, Peristiwa525 Dilihat

YOGYAKARTA, JendelaDesa.com – Kasus antraks di Gunungkidul, DIY, sangat membuat geram dan menghebohkan lantaran telah menewaskan 3 orang dan 87 lainnya dinyatakan positif mengidap antraks setelah menggali lagi bangkai sapi pengidap antraks yang telah dikubur lalu memakannya ramai-ramai. Kasus itu terjadi di Pedukuhan Jati, Kalurahan Candirejo, Kapanewon Semanu.

Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) DIY, Pembajun Setyaningastutie, menjelaskan pada tanggal 22 Mei 2023 satu korban meninggal tersebut ikut menyembelih dan mengonsumsi sapi yang sudah mati milik salah satu warga. Disusul dua korban meninggal setelahnya.

“Tanggal 29 (Mei) setelah mengonsumsi timbul gejala panas, pusing, dan batuk. Hari berikutnya timbul kayak mlenting itulah (bintik-bintik) sama pembengkakan pada kelenjar,” jelas Pembajun dalam jumpa pers.

Merebaknya virus antraks yang ditularkan dari sapi ke manusia ini membuat kekhawatiran masyarakat terlebih dengan adanya tiga orang warga yang meninggal dunia usai terpapar antraks.

“Satu yang perlu digarisbawahi, penyakit antraks itu tidak menular dari manusia ke manusia. Jadi nggak ada kemudian kena antraks terus bisa menularkan pada yang lain, tidak. Pasti dari hewan ke manusia.” imbuh Pembajun.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY, Sugeng Purwanto, mengatakan ada 6 sapi dan 6 kambing yang terindikasi positif antraks. Hewan ternak tersebut diidentifikasi mati karena antraks sejak pertengahan April 2023.

Penularan antraks bisa melalui berbagai cara antara lain, bersentuhan langsung dengan hewan yang menderita antraks saat menyembelih. Bisa juga melalui udara, yakni ketika spora virus antraks menempel di rumput lalu terhirup oleh manusia.

Memakan daging sapi maupun kambing yang positif virus antraks akibatnya bisa sangat fatal. Kurangnya edukasi kepada masyarakat di gunungkidul menjadi PR besar untuk dinas kesehatan DIY dan menjadi contoh bagi kita semua. Agar kedepannya, kejadian tragis seperti ini tidak terulang kembali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *