
SURABAYA, JendelaDesa.com – Kota Surabaya terpilih menjadi lokasi pertama di Indonesia dalam pelaksanaan program “Partnership for Preventing Riverine Plastic Pollution”. Program ini merupakan kolaborasi bilateral antara Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Pemerintah Uni Emirat Arab (UEA), dan United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia untuk menekan pencemaran sampah plastik di aliran sungai sebelum bermuara ke laut.
Program berskala nasional ini menyasar lima wilayah di Indonesia, yaitu Surabaya, Sidoarjo, Bekasi, Solo, dan Bali, dengan Kota Surabaya sebagai percontohan (pilot project) utama.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, M. Fikser, menyampaikan bahwa penunjukan ini menjadi bentuk kepercayaan pemerintah pusat atas komitmen Kota Pahlawan dalam pengelolaan lingkungan hidup. Saat ini, implementasi program telah berjalan di Kali Tebu dan Kali Mrutu dengan memasang sistem penahan sampah (trash boom).
“Setiap hari, sekitar satu ton sampah plastik berhasil diangkat dari aliran sungai melalui kolaborasi DLH Surabaya dengan NGO seperti Ecoton dan Lohjinawi. Pemkot Surabaya juga memberikan dukungan penuh, tidak hanya memfasilitasi tempat pemilahan, tetapi juga mengedukasi warga sekitar,” ujar Fikser.
Selain menjaga kebersihan sungai, program ini menerapkan konsep ekonomi sirkular. Sampah plastik yang tertahan disortir, dipilah, dipak, hingga dijual kembali. Proses ini turut memberdayakan warga sekitar sehingga memberikan dampak nilai ekonomis langsung.
Pemkot Surabaya sendiri menargetkan pengurangan timbulan sampah hingga 40 persen dari total produksi sampah kota yang mencapai sekitar 1.800 ton per hari. Dari jumlah tersebut, 200 ton diolah melalui TPS 3R, 1.000 ton diolah menjadi energi listrik di PLTSa Benowo, dan sisanya sebanyak 600 ton akan diarahkan ke fasilitas Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di Sumber Rejo, Kecamatan Pakal.
Sementara itu, Koordinator Pokja Perubahan Perilaku Masyarakat Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Sri Murwani Nurfadilastuti, serta Koordinator Sekretariat TKN PSL, Ahmad Bahri Rambe, menegaskan pentingnya edukasi pemilahan sampah dari tingkat rumah tangga agar beban lingkungan terbuka dapat berkurang secara signifikan dan berkelanjutan.
