Kirab Boyongan Pemerintahan, Nganjuk Peringati Peristiwa Bersejarah

Berita947 Dilihat

NGANJUK, JendelaDesa.com – Prosesi boyong pemerintahan dari Berbek ke Alun-alun Nganjuk dan kirab sedekah hasil bumi telah digelar hari ini (6/6/2023) yang berlangsung sangat meriah.

Pada masa pemerintahan RM. Adipati Sosrokoesoemo III (1878-1901) telah terjadi peristiwa besar yang mewarnai sejarah pemerintahan nganjuk hingga kini, yakni kepindahan tempat pusat pemerintahan dari Berbek ke Nganjuk.

Asal usul ditetapkannya tanggal 6 Juni sebagai peringatan peristiwa bersejarah ini setelah mengacu pada dokumen Laporan Residen Kediri kepada Bupati Hindia Belanda pada tahun 8 Juni 1880 No: 3024/4205 bahwa tanggal 6 Juni 1880 telah terjadi peristiwa kepindahan pemerintahan dari Berbek ke Nganjuk.

Untuk memberikan kepastian hukum, maka Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi, pada tanggal 17 Januari 2022 telah menetapkan dan membuat keputusan Bupati Nganjuk Nomor 188/200/K/411.013/2022 tentang Peringatan Hari Boyongan Pemerintahan wajib diperingati setiap tanggal 6 juni.

Disela-sela acara, Bupati Marhaen mengatakan bahwa peringatan boyongan pemerintahan ini dilakukan untuk menggali budaya kearifan lokal Kabupaten Nganjuk.

Dimana dalam prosesi boyongan tersebut, menggambarkan adanya gotong royong semua elemen masyarakat yang ikut memeriahkan prosesi tersebut.

“Alhamdulillah, peringatan prosesi boyongan pemerintahan Nganjuk ini berlangsung dengan baik dan sangat luar biasa” kata Kang Marhaen.

Ditemani Yuni Marhaen, Bupati Marhaen terlihat mengikuti kirab dari awal hingga akhir bersama instansi pemerintahan se Kabupaten Nganjuk.

Masyarakat sangat antusias menyaksikan prosesi kirab yang sakral dan meriah. Tidak sedikit dari mereka yang rela kepanasan demi memperebutkan tumpeng hasil bumi yang dibagikan secara gratis, prosesi ini dipercaya membawa berkah bagi siapa saja yang menerimanya.

Kang Marhaen menambahkan, peringatan boyongan Pemerintahan Nganjuk ini pertama kali diperingati setelah 143 Tahun yang lalu. Peringatan ini merupakan sarana komunikasi antara Pemerintah dengan masyarakat. Bahkan, roda perekonomian masyarakat juga ikut tergerak dengan banyaknya pedagang kecil yang ikut menikmati keramaian sembari menjajakan dagangannya.

“Maka dari itu, kami harapkan kegiatan prosesi boyongan Pemerintahan Nganjuk setiap tanggal 6 Juni bisa terus dilanjutkan” Tandas Kang Marhaen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *